Opini  

Utak-atik Kebijakan Minyak Goreng, Mungkinkah Desakan Mafia ?

oleh: Pitasari (Mahasiswi)

Setelah di awal tahun ini masyarakat melakukan gerakan baris-bebaris mengantri minyak goreng dengan harga yang melejit dipasaran, dan hari ini walaupun stok minyak goreng sudah banyak tersebar di hamper seluruh mini market dan juga pasar namun harga yang dipatok masih terbilang tinggi.

Berbagai macam polemik yang hadir serta kebijakan-kebijakan baru akan minyak goreng kerap kali menimbulkan berbagai dampak yang utama nya kepada masyarakat secara langsung, lihat saja setelah bulan lalu tertangkapnya seorang petinggi yang menjadi dalang dari hilangnya stok minyak goreng.

Kebijakan membuka kembali pasar ekspor didasari karena merasa pasokan stok minyak goreng di dalam negeri ini telah aman terpenuhi, selain itu kebijakan ini dirasa pemerintah dilakukan karena mempertimbangkan kesejahteraan para petani sawit. Seperti yang diungkapkan oleh mentri bidang perdagangan bahwa “Kebijakan tersebut akan diikuti upaya untuk tetap menjamin ketersediaan bahan baku minyak goreng. Saya tegaskan untuk menjamin ketersediaan bahan baku minyak goreng dengan penerapan peraturan DMO oleh Kementerian Perdagangan dan DPO yang mengacu pada kajian dari BPKP ini akan ditentukan Kemendag,” katanya dalam konferensi pers virtual di Jakarta, Jumat (20/5/2022). (baca: https://www.inilah.com/sebelum-buka-keran-ekspor-pemerintah-akan-terbitkan-aturan-dmo-dan-dpo-migor )

Baca juga  Menakar Ulang Batas 30% Ketika UU HKPD Menguji Kedaulatan Fiskal Daerah

Namun kebijakan ini tidak dapat dijadikan sebagai standar alasan kran akan ekspor dibuka walaupun dengan berabagai berberapa syarat pokok, dan tidak menutup kemungkinan bahwa kebijakan ini akan menyebabkan kembali terjadinya kelangkaan stok minyak goreng yang menyebabkan harga barang semakin melambung naik seperti yang sudah-sudah.

Masyarakat hari ini seolah sedang dipermainkan oleh rezim yang secara terus menerus membuat kebijakan yang nampaknya selalu mempersulit masyarakat, bagaimana tidak disaat masyarakat masih terus menelan pil pahit harga minyak goreng sudah meroket di pasaran. Masyarakat seolah menanggung beban berat akan setiap efek buruk dari setiap kebijakan yang ada, belum lagi pengusutan buntut permasalahan akan menghilangnya stok minyak goreng oleh para mafia yang belum juga terselesaikan.

Banyak sekali kasus yang menguntungkan para pihak mafia di negeri ini dengan mengambil keuntungan eksport dan terlihat dengan sengaja menaikan harga jual di dalam negeri, Lagi dan lagi rakyat harus menderita dan terluka dengan langkah dan tindakan kebijakan pemerintah yang semena-mena.

Munculnya kebijakan baru terkait akan dibuka nya kran inport bukan tidak mungkin hal ini akan menguntungkan mereka para pengusaha eksprtir dan produsen sawit, bagaimana tidak kebijakan ini akan menghawatirkan yang justru berpotensi menyengsarakan rakyat kembali.

Baca juga  TDL Naik Lagi, Begini Islam Tawarkan Solusi

Dibalik sikap pemerintah hari ini dalam hitungan waktu yang terbilang singkat meluncurkan kebijakan baru bukan tidak mungkin ada desakan oleh para mafia, hal ini bisa dibuktikan dengan cepat nya kurun waktu akan penutupan kran eksport yang hanya berlaku kurang lebih hanya satu bulan lamamnya sebelum kebijakan kran eksport kembali dibuka.

Begitulah bagaiman cara kerja rezim kapitalis hari ini berjalan dan berkerja di negeri ini, segala kebijakan yang turut hadir bukan lagi apakah mempertimbangkan kepentingan kemaslahatan rakyat. Namun kebijakan yang hadir cenderung melihat keuntungan sebesar-besar nya yang akan didapati para segelintir orang tertentu.

Hal ini berbeda dengan Islam. Sistem Islam akan mengacu pada pemegang tahta aturan tertinggi yakni sang pencipta, pemimpin yang hadir menjalankan aturan sesuai dengan cara kerja bagaimana sumber hukum terkuat yakni Al-qur-an mengatur nya. Sehingga kebijakan-kebijakan yang hadir dan lahir adalah bagaimana kebijakan itu menyelesaikan problem pada masyarakat, dalam artian kebijakan yang hadir bukan kebijakan yang menyengsarakan rakyat melainkan kebijakan yang hadir sebagai solusi terbaik bagi rakyat.

Baca juga  Nestapa Umat Tanpa Junnah

Permasalahan seperti kelangkaan stok bahan pokok semisal minyak goreng tidak akan terjadi sebab negara tidak akan melakukan tindakan ekspoort disaat permintaan konsumsi barang pada masyarakat belum terpenuhi secara cukup sepenuhnya, sehingga hal ini akan mengakibatkan stok barang akan mengalami surplus dan rendah mengalami lonjakan inflasi yang berakibat meroketnya harga nila jual suatu barang dipasaran.

Jika kita melihat hari ini sudah sangat sering terjadi inflasi secara bersar-besar dan terus-menurus pada barang kebutuhan pokok oleh para mafia, sehingga harga yang muncul di pasaran mengalami lonjakan yang tinggi.

Sistem ekonomi Islam yang diterapkan dalam bingkai negara (khilafah) akan mengatasi permasalahan yang terjadi sepperti saat ini, negara bertanggung jawab penuh atas kebutuhan pokok yang terjadi. Bahkan negara akan selalu memastikan bahwa bahan pangan dan kebutuhan pokok selalu surplus, dan tersedia dengan harga yang beredar dipasaran merupakan harga yang wajar dan normal sehingga masyarakat dapat menjangkaunya. Maka dari itu, dengan diterapkannya Islam secara keseluruhan dalam kehidupan akan terwujudlah kehidupan yang aman, nyaman serta sejahtera. Waulahuallam bisawab