Opini  

Nestapa Umat Tanpa Junnah

Oleh : Nurul Alimah Kasim ( Mahasiswa )

Bulan Rajab adalah salah satu bulan yang istimewa dalam kalender hijriah, pada bulan ini kita dihimbau untuk memulai untuk membiasakan diri untuk memperbanyak puasa, dan amalan sunnah. Bahkan ada doa yang selalu Nabi SAW panjatkan ketika memasuki bulan Rajab.Bulan ini kita ibarat menanam,Sya’ban mengairi dan Ramadhan adalah bulan memanen.

Doa yang senantiasa Nabi panjatkan ketika memasuki bulan Rajab ;

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ، وَشَعْبَانَ، وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

“Ya Allah, berkahi kami di bulan Rajab dan Sya’ban serta sampaikanlah kami ke bulan Ramadan”

Beramal sholih adalah cara seorang hamba untuk menggapai Ridho Allah. Ridho Allah pun menjadi syarat seorang muslim untuk dapat memasuki surga yang telah dijanjikan kepada orang yang beriman. Akan tetapi, Keridhoan itu tak semudah membalikkan telapak tangan. Dalam prosesnya kita harus menjalankan perintah dan hukum yang sudah Allah tetapkan bagi manusia seperti yang sudah dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw . Wajar kita menemukan banyak sekali kesulitan, utamanya di zaman ini yang memang sudah berada di akhir zaman. Dimana berbagai fitnah bertebaran, lingkungan yang semakin buruk, perilaku manusia semakin diluar nalar, dan keadilan yang semakin langka. Lalu apa yang bisa kita perbuat?

Momentum Hilangnya Junnah
Selain memperbanyak puasa dan ibadah sunnah di bulan ini, ternyata ada momentum yang harus selalu kita ingat pada bulan ini. Yaitu runtuhnya kekhilafahan Utsmani oleh Mustafa Kemal Attaturk. Seorang Yahudi yang merupakan antek Inggris. Yang menjadi momentum hilangnya perisai kaum muslim akibat sekularisasi yang saat ini menjadi dasar dalam pengambilan keputusan. Kerusakan pemikiran dan perasaan umat pun bermula dari sini.

Baca juga  Tuntutan Hukuman Mati Jaksa pada TM Sudah Tepat

Siapa yang tak kenal dengan tiga episode penting yaitu Imperium Romawi, Imperium Persia, dan bahkan Islam sebagai episode ketiga yang terpotret dalam sejarah. Pada waktu itu, wilayah umat islam seluas 20.000.000 km2 terbentang bahkan selama 1300 tahun. Dimana sumber hukumnya adalah Al – Qur’an dan Sunnah.Semua umat Islam bersatu dalam sebuah Negara, mempersatukan semuanya, superior dimata dunia. Sangat berbeda dengan kondisi umat saat ini yang penuh penderitaan.

Derita Muslim Atas Ketiadaan Junnah.

Banyak peristiwa yang bisa dijadikan contoh betapa butuhnya kita terhadap syariah untuk mengambil sebuah fakta, cukup mengamati Negeri kita yang notabene adalah mayoritas muslim akan tetapi realitasnya sangat jauh dari kata islami. Maksiat tak lagi sungkan untuk dipertontonkan, bahkan permusuhan antar kaum muslim sendiri. Jelas semua ini ada sebab musabab nya, tak akan ada asap jika tak ada api yang membakar.

Pertama, Hilangnya Ilmu Pengetahuan. Melihat setiap topik yang menjadi pembicaraan masyarakat memang menggelikan, pasalnya yang menjadi bahan pembicaraan mereka adalah permasalah seperti masalah pribadi orang lain, kerusakan moral bahkan menampakkan kebodohan dan perbuatan tak senonoh hanya untuk popularitas semata. Sungguh terlihat jelas potret pembodohan kepada umat dan generasi.

Baca juga  Kontroversial Pelanggaran HAM Pengalihan Status Pegawai KPK

Kedua, Kemiskinan . Sudah menjadi rahasia umum bahwa Hunger Issue serta presentase angka .kemiskinan seakan belum menemukan titik terang. Warga miskin semakin miskin yang sangat kontas dengan yang terjadi di negara pengusung kapitalis, yaitu Amerika banyak data yang mengungkap kasus obesitas disana.

Ketiga, Hilangnya Kedaulatan dan Kekuatan umat muslim. Terpecahkan Negara muslim menjadikan mereka tersekat oleh ikatan nasionalis yang mengotakkan Negara Negara kaum muslim yang dulunya merupakan satu kesatuan. Palestina pun semakin terpuruk di porak porandakan oleh zionis.hanya Dan kita tak bis aberbuat banyak untuk mereka.

Keempat, Lemahnya kekuatan keluarga . Kekuatan pertama seorang generasi adalah dari orang tua. Tapia apa jadinya jika orang tua hanya sebatas memberi nafkah dan membesarkan tanpa mendidik secara islami. Alhasil generasi saat ini hanya dewasa secara fisik, akan tetapi lemah dan rapuh secara mental.

Semua permasalahan umat bermuara pada satu titik yang sama yaitu Hilangnya pedoman yang menjadi tolak ukur dalam mengambil keputusan. Sekularisme telah memalingkan fokus untuk mengganti islam sebagai penyelesaian persoalan seluruh aspek kehidupan. Sekularisme memaksa para pemikirnya untuk menempatkan agama hanya pada ibadah ritual dan mengabaikan peran pentingnya akan seluruh aspek hidup.

Baca juga  Politik Demokrasi Dipenuhi Intrik Keji

Lalu, Apa Yang Bisa Kita Perbuat
Sendi – sendi umat rapuh sedikit demi sedikit .. Telah Nampak kerusakan dari berbagai lini kehidupan. Semuanya membuktikan, bahwa mengganti pemimpinnya tidak menyelesaikan masalah yang memang sistematis. Figur memang penting, tapi itu akan seperti ibarat susu yang dituang kedalam kopi hitam, tentu ia akan tercampur bersama kopi dan warnanya akan tercampur, sehingga tak ada lagi warna putih.

Seperti itulah jika niat baik tidak disertai metode yang baik, maka hasilnya akan mengecewakan. Tak ada jalan lain selain kembali kepada syariah. Umat terbaik hanya lahir dari sistem terbaik. Bukan buatan manusia yang lemah, tapi dari Allah Sang pemilik kehidupan. Penderitaan kaum muslim akan berakhir jika Junnah atau perisai umat ( Syariah Islam) diterapkan di segala aspek kehidupan.

Penerapannya dalam skala global pernah terbukti mewujudkan kesejahteraan umat baik muslim maupun nonMuslim sekalipun. Sambut janji Allah. Maka dengan demikian, maka terwujudlah firman Allah Tidaklah aku mengutusmu Muhammad, kecuali sebagai Rahmatan Lil ‘ Aalamin. Semoga kita berdiri di garis pejuang, bukan penentang syariah kaffah. Wallahua’lam