Opini  

Tak hanya Perselingkuhan, Bahkan Sex Bebas Menggurita di Negeri Sekuler

Oleh: Khadijah Nelly, M.Pd. *(Akademisi dan Pemerhati Masalah Keumatan)

Belum usai kehebohan publik dengan beredarnya video asusila dikalangan artis, kini jagat maya dihebohkan kembali dengan berita yang sempat viral dan trending beberapa hari ini  tentang isu perselingkuhan antar personil group musik. Mirisnya kejadian ini dilakukan oleh mereka yang menamakan diri sebagai pengusung lagu-lagu religi. Berbagai tanggapan bermunculan dan sangat menyayangkan, sebab lagu-lagu Islami yang selama ini dibawakan tak sejalan dengan perilaku mereka yang membawakannya.

Fenomena ini sebenarnya tak terlalu mengejutkan, sebab dunia selebritis sudah diketahui bukan lagi rahasia umum tempatnya pergaulan antar lelaki dan kaum hawa yang tanpa batas, campur baur, gaya hidup hedonis, serba liberal hingga maraknya kasus sex bebas. Hampir setiap hari publik disajikan berbagai fakta berita gurita sex bebas yang terus saja menjamur. Tentu saja ini terjadi bukan saja dikalangan artis, pergaulan bebas seakan sudah menjadi sesuatu yang “lumrah” dan menjamur di kalangan masyarakat Indonesia khususnya dan dunia pada umumnya.

Free sex ini semakin menjamur dikalangan remaja dan sudah merambah hampir ke seluruh kalangan, baik muda ataupun tua.

Penyebab Sex Bebas Menjamur

Sungguh menyedihkan keadaan masyarakat di negeri yang mayoritas Muslim ini. Ya, sungguh sangat ironi, pergaulan bebas kini juga bukan saja terjadi antara laki-laki dan perempuan namun makin parah sebab juga terjadi pada sesama jenis hingga menjadi sesuatu yang biasa dan bahkan sudah menggurita tak terbendung.

Pertanyaannya adalah mengapa hal ini bisa terjadi?

Perlu dipahami bersama bahwa pergaulan bebas lahir dari paham kebebasan dalam sistem demokrasi yang meyakini adanya empat kebebasan dalam kehidupan yakni kebebasan berpendapat, kebebasan beragama, kebebasan berprilaku dan kebebasan berkepemilikan. Dan paham ini telah diadopsi oleh negeri ini, tak heran jika banyak yang berdalih dengan kebebasan berprilaku, hampir semua orang menggunakan alasan ini untuk melakukan free sex. Ditambah lagi dengan ide HAM (Hak Asasi Manusia).

Maka yang terjadi adalah jika perbuatan keji ini dilakukan atas dasar suka sama suka maka bukanlah suatu masalah bahkan tak akan mendapat hukuman apalagi sanksi, karena perbuatan itu termasuk hak asasi manusia yang dilindungi oleh undang-undang. Ya, kondisi masyarakat hari ini sangat jauh dari tuntunan agama, wajarlah ini terjadi sebab negara secara tidak langsung meneguhkan sistem sekuler di tengah masyarakat.

Peran Negara dalam mengatur sistem pergaulan ini pun samar, kabur dan tidak jelas, bahkan seakan-akan melepaskan tanggung jawabnya untuk mengurusi rakyat. Salah satu contoh saat ini, negara tidak ada memfilter dan menjaga agar pergaulan bebas dapat dicegah. Yang ada justru malah difasilitasi dengan adanya media yang menyebarkan pornografi-pornoaksi baik di medsos, televisi, internet, media cetak, majalah dan lain sebagainya.

Tidak hanya itu, alat kontrasepsi pun sudah menjadi barang yang mudah didapatkan oleh siapapun sehingga secara tidak langsung diperbolehkan untuk melakukan hubungan suami istri dengan siapapun walaupun tidak terikat pernikahan. Tempat-tempat maksiat seperti lokalisasi yang legal dan ilegal sangat mudah ditemui, bahkan kini merambah sampai pada prostitusi online.

Lantas bagaimana penyelesaian permasalahan ini?

Islam Solusi Ideal Cegah Sex Bebas

Islam adalah sebuah aturan kehidupan yang sempurna. Islam tidak hanya mengatur urusan ibadah kepada tuhannya saja seperti shalat, zakat, naik haji, puasa, namun Islam mengatur seluruh aspek kehidupan termasuk sistem pergaulan.

Dalam kitab sistem pergaulan dalam Islam karya Syeikh Taqiyuddin An-Nabhani menjelaskan, bahwa Islam mengatur hubungan antara laki-laki dan perempuan, dimana hubungan laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim hanya sebatas dalam ranah pendidikan, muamalah, persanksian dan kesehatan.

Islam mengatur untuk tidak bolehnya berkhalwat (berdua-duaan), berikhtilat (campur baur antara laki-laki dan perempuan), mengumbar aurat, bertabarruj (berdandan berlebihan), melakukan safar tanpa ditemani mahram bagi seorang perempuan.

Dari sini betapa aturan Islam sangat memanusiakan manusia. Wajar jika yang terjadi hanyalah keamanan, kenyamanan dan ketentraman. Hal ini dikarenakan Islam merupakan aturan kehidupan yang bersumber dari Sang Kholik, Allah yang mengetahui seluk beluk makhluknya termasuk manusia.

Jika seorang Muslim mengaku beriman kepada Allah tentunya konsekuensi dari keimanan adalah bertakwa kepada Allah dengan menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Termasuk dalam hal menjaga pergaulan sesuai dengan bagaimana Islam mengaturnya. Tak akan terjadi insiden perselingkuhan bahkan sex bebas, jika saja negara berperan dalam menerapkan sistem pergaulan dalam Islam, memberikan sanksi hukum berat bagi siapa saja yang melanggarnya apalagi berbuat zinah.

Negara dalam Islam akan menutup segala bentuk akses dan celah yang mengarah pada tontonan pornografi maupun pornoaksi. Tidak akan ada lagi pergaulan di tengah masyarakat, yang bebas tanpa batas bercampur baur laki dan perempuan. Negara akan membentuk pribadi-pribadi Islami pada seluruh penduduknya, memaksa umat untuk menjadi orang baik, beriman dan bertakwa. Di sinilah negara akan sepenuhnya menerapkan sistem aturan Islam secara totalitas dalam kehidupan.

Sebab dengan penerapan Islam secara sempurna dalam kehidupan bernegara, bermasyarakat hingga level individu, akan membawa keberkahan dan kemaslahatan. Ini telah dicontohkan oleh baginda Rasulullah Muhammad semenjak beliau hijrah ke Madinah menjadi kepala negara memimpin umat dengan sistem Islam dan dilanjutkan para Khulafaur Rhasiddin hingga para pemimpin Islam setelahnya berlangsung selama 1400 tahun lamanya.

Kehidupan yang sejahtera, adil, makmur, bermartabat, satu-satunya peradaban gemilang yang berhasil memanusiakan manusia, puncak keemasan yang dirasakan bukan saja bagi Muslim, namun juga Nonmuslim.

Tidakkah masa kegemilangan umat ini ingin diulang kembali?

Wallahu ‘alam bis showab. (*)