

Oleh: Rut Sri Wahyuningsih
(Institut Literasi dan Peradaban)
Di mata dunia hari ini, apa yang dilakukan Israel dan berikut pengkianatannya dalam gencatan senjata yang belum sehari berlangsung sesuai kesepakatan sudah menyerang kembali adalah penjajahan, tak berperikemanusiaan. Di berbagai belahan dunia, gelombang protes dan turut simpati, menghendaki Israel segera menghentikan serangannya yang tidak seimbang kepada Palestina.
Rakyat Palestina, dengan dibantu Hamas sekalipun, tetap bukan lawan seimbang bagi Israel, terlebih sudah bukan rahasia umum, Amerika dan hampir semua negeri Muslim adalah pendukung di belakang Israel meski dalam diam dan ketidakterusterangan. Muncullah gerakan boikot produk-produk dan brand korporasi Israel sebagai reaksi nyata simpati kepada Palestina.
Litbang MNC Portal Indonesia (MPI), mendapati produk atau brand asal Israel tidak secara langsung dilakukan melalui hubungan dagang antar dua negara. Hal ini karena Indonesia belum mengakui Israel sebagai negara. Namun begitu, produk-produk asal Israel tidak terhindarkan masuk ke Indonesia melalui berbagai afiliasi kelompok dagang, terutama via e-commerce.
Pergerakan impor produk-produk dari Israel ini masih berlanjut pada tahun 2021 ini. Misalnya awal tahun 2021 (Januari-Februari), produk impor asal Israel mencapai USD1.785.870 dengan berat mencapai 144 ton (okezone.com,21/5/2021).
PP Muhammadiyah, melalui ketuanya, Anwar Abbas mengajak umat Islam untuk memboikot produk-produk yang terafiliasi dengan kelompok zionis Israel, juga mendorong negara lainnya melawan dengan cara pemutusan hubungan diplomatik.
“Serta memboikot semua bentuk transaksi dan perdagangan dengan negara penjajah dan teroris tersebut agar pemerintah Israel sadar dan menghormati hak orang lain, terutama hak dari rakyat dan bangsa Palestina,” ujarnya dilansir dari situs resmi Muhammadiyah.or.id, Jumat (14/5/2021).
Menurut Anwar Abbas, negara-negara Islam seharusnya menyatukan suara untuk melawan Israel yang melakukan kekerasan yang justru merupakan akar lahirnya rantai panjang kekerasan dan dunia yang tidak damai. “Cara-cara (zionis) seperti inilah yang mengundang lahirnya tindakan radikalisme dan terorisme sebagai respon dan cara yang bisa mereka lakukan untuk membalas dendam atas kesakitan, kematian, dan ketidakadilan yang mereka terima,”(Okenews, 14/5/2021).
Dibeberapa wilayah juga sudah muncul pergerakan sweeping, seperti Massa yang mengatasnamakan Gerakan Pemuda Madura (Gapura) menggelar aksi sweeping dengan menargetkan sejumlah toko retail modern dan swalayan di Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur (suaramalang.id, 20/5/2021).
Dilansir dari CNN Indonesia, 21 Mei 2021, Gerakan pendukung Palestina Boycott, Divestment, and Sanctions Movement (BDS) juga menyerukan boikot sejumlah produk yang dinilai mendukung aksi Israel. Perusahaan yang diboikot di antaranya AXA dan Hewlett Packard (HP). Hal ini mendorong perusahaan ritel berhenti menjual produk dari perusahaan yang mengambil untung dari aksi Israel di Palestina. Disebutkan kemudian boikot ini membuat eksportir mengeluh karena sulit menjual produknya ke negara lain.
Dengan kata lain, boikot difokuskan pada perusahaan yang memainkan peran yang jelas dan langsung dalam aksi Israel. Namun, belum ada tanggapan atau pernyataan dari produk-produk tersebut terkait aksi pemboikotan ini (CNNIndonesia, 21/5/2021).
Efek boikot juga kurang baik bagi masyarakat, karena akan menimbulkan kegaduhan, rasa tak aman dan was-was. Secara jika itu dilakukan yang pertama terdampak adalah usaha para pengusaha. Jika level kartel atau besar mungkin tak terlalu berimbas. Namun jika di swalayan-swalayan rakyat kecil jelas juga menzalimi mereka.
Boikot memang cara termudah dan tercepat untuk menimbulkan reaksi simpati dunia, namun sejatinya ini hanyalah solusi parsial. Yang nantinya akan memunculkan sesal, sebab tak menyangkut akar persoalan yang menjadi sebab awal seteru Israel dan Palestina. Kita tidak boleh lupa, tegaknya Israel menjadi penjajah zalim ada negara besar yang mendukung di belakangnya, Amerika, begitu pula dengan negara-negara Muslim yang tergabung dalam organisasi internasional.
Mereka telah tersekat oleh nation state, negara buatan barat dan sekutunya melalui perjanjian Skyes Pivot. Sehingga mereka dibatasi hanya mengurusi urusan dalam negara mereka sendiri dan tidak berani memutuskan tindakan membela saudara seakidah seperti Palestina dan lainnya.
Amerika, melindungi Israel bukan sekadar karena hubungan perasaan semata, namun lebih kepada manfaat kapitalisme sesuai dengan idiologi yang dimilikinya . Israel adalah alat politik untuk memenuhi keinginan Amerika terkait pendapatan negara, baik dari pasar persenjataan maupun pasar ekonomi dari hasil SDA negeri-negeri Muslim yang berafiliasi dengan Israel. Secara logika, jika benar Amerika hendak melindungi Israel semata-mata bukan karena manfaat pasti Israel akan dipindah ke wilayah Amerika. Bukan di biarkan di wilayah Palestina .
Kini tindakan yang terjauh yang bisa dilakukan oleh negeri-negeri Muslim hanyalah mengecam dan mengomando persatuan tanpa tindakan riil, jika saja tak ada batasan perjanjian internasional dalam organisasi yang mereka ikuti tentulah Israel sudah keok karena libasan tentara Muslim gabungan seluruh negara Muslim dan berikut komando pemimpin Muslim yang satu.
Kungkungan inilah yang harus kita buyarkan, persatuan hakiki tidak sekadar slogan, tapi mengarah pada pencerdasan umat terkait persoalan besar yang mengakibatkan kesenggsaraan yaitu tidak adanya kepemimpinan umum, yaitu Khilafah. Kita dipimpin oleh pemimpin boneka, buatan barat sekaligus dikendalikan. Yang itu bertentangan dengan fakta khilafah, ia adalah negara mandiri dan dipimpin oleh seseorang yang hanya takut kepada Allah SWT.
Setiap tindakan Kholifah, berdasarkan Alquran dan As Sunnah, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah, Khulafaur Rosyidin dan khalifah-khalifah setelahnya. Inilah yang ditakutkan barat, termasuk Amerika, sebab sejarah buruk bagi mereka ketika Khilafah tegak, mereka tak pernah punya ruang guna menjalankan strategi mereka, yaitu penjajahan.
Maka, bisa dinalar jika hari ini banyak pihak yang kemudian menganggap Khilafah adalah kejahatan. Mereka tak lain gagal faham dengan sejarah dan rela menjadi corong barat, nauzubillah. Akankah kita hari ini berlaku yang sama? Mengiyakan pendapat yang keliru dan membebek pendapat-pendapat yang salah, padahal kita dikaruniai keleluasaan oleh Allah dibandingkan saudara kita di Palestina, Rohingya, Xinjiang dan lainnya? Wallahu a’ lam bish showab.














