Opini  

Padamnya Listrik Masyarakat Panik

Oleh : Nor Hamidah
*(Pemerhati sosial)

Padam nya listrik di Kalimantan Timur dan Kalimantan selatan mengalami gangguan listrik sepanjang kamis (27/5/21) dan baru kembali menyala pukul 20.51 wita.
Kondisi itu membuat jutaan pelanggan perusahaan Listrik Negara (PLN) terdampak dan menanggung kerugian.

Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya atas ketidak nyamanan ini kata General Manager (GM) unit induk wilayah Kalimantan Timur dan Utara (UIW Kaltimra),
Penyebab utama pemadaman listrik ini adalah lepasnya sistem interkoneksi, penghubung antara Kalsel dengan Kaltim, karena terganggunya transmisi dari Gardu Induk Tengkawang dan Gardu Induk Embalut, CNN Indonesia.com jum’at (28/5/2021). Saat sistem interkoneksi lepas, maka daya dari beberapa pembangkit jadi tidak tersalur, sehingga listrik padam.

Baca juga  Konflik Palestina Butuh Solusi Nyata

Sistem interkoneksi ini sendiri meliputi sistem Mahakam di Kalimantan Timur dan Sistem Barito yang melingkupi Kalsel dan sebagian Kalteng.

Sehingga sebagian wilayah Balikpapan dan sejumlah daerah di Kaltim seperti Samarinda, Tenggarong, Bontang, dan sangatta juga mengalami pemadaman listrik sejak pukul 13.29 Wita. Gangguan serupa juga terjadi di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.

Dengan terjadinya pemadaman listrik ini menyebabkan banyak Masyarakat kota Samarinda yang berbondong-bondong untuk menginap di Hotel atau Penginapan-penginapan, ada yang ke mall untuk melarikan diri dari rumah mereka yang mati lampu. Bahkan ada juga sebagian warga yang memborong genset.

Baca juga  Opini: Tuntutan Pembubaran MUI

Yang menarik lagi ada sebagian warga yang memilih rumah ibadah terutama mushola atau masjid, mereka berkumpul ditempat itu untuk sekedar men-charger HP.
Begitulah dalam sistem sekuler saat ini solusi praktis mereka ialah cenderung untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka dengan serba materi dan serba instan yang hanya mengejar kenikmatan dunia (hedonisme).
Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa orang akan menjadi bahagia dengan mencari kebahagiaan sebanyak mungkin dan sedapat mungkin menghindari perasaan-perasaan yang menyakitkan.

Hedonisme ini merupakan ajaran atau pandangan bahwa kesenangan atau kenikmatan merupakan tujuan hidup. Seperti; melakukan vandalisme untuk kesenangan; sifat boros; suka menghamburkan uang dan hanya berpikir tentang kebahagiaan dunia. Gaya hidup hedonis ini semakin subur di tengah sistem kehidupan yang jauh dari aturan Allah SWT, yang lebih mengendepankan sekulerisme dan liberalisme sehingga orang hidup dengan aturan sendiri tidak lagi melihat aturan yang memberikan mereka kehidupan yaitu aturan Allah SWT.
Sedangkan dampak negatif dari perilaku hidonisme ini selain menjadi seorang pemalas dan juga menjadi seorang yang tidak bertanggung jawab bahkan kepada dirinya sendiri. (*)