Fakfak – Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 Universitas Hasanuddin (Unhas) mulai menjalankan program hilirisasi perikanan di Kawasan Transmigrasi Weri-Saharey, Distrik Fakfak Timur, Kabupaten Fakfak, Papua Barat.
Program yang akan berlangsung selama empat bulan ini difokuskan untuk meningkatkan nilai tambah hasil perikanan masyarakat melalui pengolahan produk, pengembangan kemasan, branding, hingga perluasan akses pasar.
Langkah awal program ditandai dengan pelaksanaan Sosialisasi Program dan Focus Group Discussion (FGD) Penentuan dan Penyiapan Lokasi Rumah Produksi Bersama (RPB) dilaksanakan pada Jumat 4 September 2026 di Balai Kampung Saharey.
Kegiatan tersebut menjadi agenda perdana riset Tim 9 TEP Unhas yang dipimpin oleh Ir. Rijal M. Idrus, M.Sc., Ph.D., dengan judul riset “Hilirisasi dan Diversifikasi Olahan Perikanan Berbasis Rumah Produksi Bersama di Kawasan Transmigrasi Weri-Saharey”.
“Program ini merupakan bagian dari implementasi kebijakan Kementerian Transmigrasi Republik Indonesia,” ungkap Rijal, Jumat (11/9/2026).
Sebanyak 30 peserta hadir dalam kegiatan tersebut, terdiri atas unsur pemerintah distrik dan kampung, Badan Permusyawaratan Kampung (Baperkam), Badan Usaha Milik Kampung (BUMKam), kelompok pemuda, hingga ibu-ibu nelayan dari Weri dan Saharey.
Dalam pemaparannya, Tim 9 TEP Unhas menjelaskan tahapan program yang akan dijalankan, mulai dari penyiapan fasilitas produksi, peningkatan keterampilan pengemasan, pengembangan identitas merek produk, pemasaran digital, hingga business matching dengan calon mitra usaha.
Salah satu hasil penting dari pertemuan itu adalah disepakatinya lokasi final Rumah Produksi Bersama (RPB) Perikanan Weri-Saharey.
Kesepakatan tersebut menjadi fondasi bagi tahap lanjutan berupa penataan ruang produksi, pengaturan zona kerja, serta pemasangan berbagai peralatan pendukung pengolahan dan pengemasan hasil perikanan.
Pendekatan yang digunakan dalam program ini mengacu pada metode Participatory Action Research (PAR), yang menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama dalam setiap proses perubahan.
Masyarakat dilibatkan sejak penentuan lokasi RPB, penyusunan konsep branding produk, hingga pengembangan jaringan pemasaran.
Potensi Besar yang Belum Tergarap Maksimal
Pemilihan sektor perikanan sebagai fokus program didasarkan pada potensi besar yang dimiliki kawasan pesisir Weri-Saharey. Mayoritas masyarakat menggantungkan hidup pada aktivitas penangkapan ikan dan pemanfaatan sumber daya laut.
Namun demikian, selama ini hasil tangkapan sebagian besar masih dipasarkan dalam bentuk bahan mentah. Keterbatasan fasilitas pengolahan dan pengemasan membuat produk perikanan lokal belum memiliki daya saing yang kuat untuk menembus pasar yang lebih luas.
Selain itu, persoalan kemasan, informasi produk, identitas merek, hingga jaringan pemasaran juga menjadi tantangan yang dihadapi masyarakat.
Melihat kondisi tersebut, Tim 9 TEP Unhas merancang program yang tidak hanya berfokus pada peningkatan kapasitas produksi, tetapi juga membangun rantai nilai perikanan dari hulu hingga hilir.
“Tujuan utama program ini adalah meningkatkan nilai ekonomi hasil perikanan masyarakat melalui penguatan pengolahan, pengemasan, branding, dan pemasaran berbasis komunitas,” jelas tim dalam pemaparannya.
RPB Jadi Jembatan Nelayan dan Pasar
Rumah Produksi Bersama yang akan dibangun memanfaatkan bangunan yang telah tersedia di kawasan Weri-Saharey. Fasilitas tersebut akan ditata menjadi ruang produksi yang lebih higienis dan terorganisasi, serta dilengkapi dengan berbagai peralatan seperti vacuum sealer, timbangan digital, meja produksi, dan perlengkapan pengemasan lainnya.
RPB dirancang sebagai aset komunitas yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh masyarakat.
Dalam pengelolaannya, kelompok perempuan akan berperan pada proses produksi dan pengemasan, sedangkan pemuda akan diperkuat pada aspek pemasaran digital, pengelolaan media sosial, toko daring, hingga distribusi produk.
Sementara para nelayan tetap menjadi aktor utama dalam penyediaan bahan baku hasil tangkapan yang akan diolah melalui fasilitas tersebut.
Dengan pola ini, program tidak berhenti pada bantuan peralatan semata, tetapi berupaya membangun ekosistem usaha yang menghubungkan bahan baku, proses produksi, kemasan, identitas produk, dan akses pasar dalam satu rantai nilai yang utuh.
Pelatihan dan Business Matching Disiapkan
Setelah tahap penyiapan RPB, masyarakat akan mengikuti serangkaian pelatihan yang mencakup teknik dasar pengemasan, pelabelan produk sesuai standar pasar, hingga praktik pengemasan produk nyata menggunakan peralatan yang tersedia.
Peserta juga akan memperoleh pendampingan dalam membangun identitas merek produk perikanan Weri-Saharey, mulai dari penentuan nama merek, logo, warna, hingga desain kemasan yang merepresentasikan karakter lokal daerah tersebut.
Selanjutnya, produk yang telah siap dipasarkan akan diperkenalkan kepada berbagai calon mitra usaha melalui kegiatan business matching di Kota Fakfak, termasuk toko oleh-oleh, minimarket lokal, restoran seafood, dan pelaku usaha lainnya.
Selaras dengan Agenda Hilirisasi Nasional
Program hilirisasi perikanan yang dijalankan TEP 2026 Unhas dinilai sejalan dengan agenda nasional, khususnya Asta Cita ke-5 yang menekankan hilirisasi dan industrialisasi untuk meningkatkan nilai tambah produk dalam negeri.
Selain itu, program ini juga mendukung penguatan kapasitas pemuda dan perempuan, pembangunan berbasis masyarakat, serta pengembangan ekonomi lokal yang menjadi prioritas Kementerian Transmigrasi, Pemerintah Provinsi Papua Barat, dan Pemerintah Kabupaten Fakfak.
Kepala Distrik Fakfak Timur Beri Apresiasi
Kepala Distrik Fakfak Timur, Gani Samai, S.E., menyambut baik kehadiran program tersebut. Menurutnya, masyarakat Weri-Saharey memiliki potensi perikanan yang besar dan membutuhkan pendampingan agar hasil tangkapan tidak hanya dijual dalam bentuk bahan mentah.
“Kami bersyukur dengan adanya kegiatan seperti ini di Weri-Saharey. Potensi perikanan yang dimiliki masyarakat sangat besar, sehingga kami berharap program hilirisasi ini dapat membantu masyarakat tidak hanya menjual hasil tangkapan dalam bentuk bahan mentah, tetapi mengolahnya menjadi produk yang memiliki nilai tambah,” ujarnya.
Ia juga menilai program tersebut membuka ruang pemberdayaan yang lebih luas bagi kelompok perempuan dan pemuda.
“Business matching sangat bermanfaat karena masyarakat akan diperkenalkan langsung dengan calon pembeli atau pelaku usaha. Ini penting untuk keberlanjutan program, sehingga produk yang dihasilkan nantinya benar-benar memiliki pasar dan dapat membantu meningkatkan perekonomian masyarakat,” tambahnya.
Melalui program ini, Tim 9 TEP Unhas menargetkan terbentuknya ekosistem hilirisasi perikanan yang tetap berjalan meski masa ekspedisi telah berakhir.
Harapannya, hasil tangkapan nelayan yang selama ini keluar dari Weri-Saharey sebagai komoditas mentah, ke depan dapat hadir sebagai produk unggulan daerah yang memiliki identitas, cerita, pasar, dan nilai ekonomi yang lebih tinggi bagi masyarakat setempat. (*)













