Kampanye gerakan perubahan pola pikir ini telah membuahkan hasil yaitu sedikit demi sedikit, dan setapak demi setapak telah merubah pola pikir masyarakat Bokin Pitung Penanian dalam membangun infrastruktrur secara swadaya dan swadana. Dari waktu ke waktu, dari tahun demi tahun semakin banyak masyarakat memahami dan menyadari sehingga ikut melibatkan diri dan mengambil bagian berpartisipasi dalam mendukung pembangunan infrastruktur yaitu menyumbang material, menyumbang dana, dan terlebih dalam konteks rambu solo’ dan rambu tuka’ sudah mulai terbangun sebuah kesadaran dan kebiasaan masyarakat untuk menyedia-menyediakan atau menyumbangkan natura dilelang untuk mengumpulkan dana mendukung kegiatan Pa’misaran Bokin Pitung Penanian dan alhasil Pa’misaran Bokin Pitung Penanian telah membangun infrastruktur di beberapa titik yang merupakan akses utama masyarakat Bokin Pitung Penanian menuju ke dan dari kota Rantepao sebagai ibukota Kabupaten Toraja Utara.
Kesediaan masyarakat dalam menyediakan natura untuk dilelang bukan hanya masyarakat di kampung tetapi juga sudah menular ke daerah-daerah perantauan antara lain di Padang Sappa, di Sorong, di Jayapura dll.
Sambil pembangunan infrastruktur berjalan, kini Pa’misaran Bokin Pitung Penanian mulai memperluas wawasan berpikir sektor-sektor lain untuk mengkampanyekan pengembangan ekonomi pedesaan melalui kampanye gerakan perubahan dengan menggali nilai-nilai ekonomi dan kearifan lokal yang nyaris hilang.
Mengkampanyekan pengembangan ekonomi melalui gerakan pengembangan holtikultura :
Menanam sayur-sayuran berupa sayur sawi, sayur kol, sayur kangkung, sayur bayam, sayur labu, sayur pepaya, kacang panjang, bulunangko (daun miyana)
Bumbu-bumbuan berupa lada katokkon (cabe menyerupai buah jambu air dan sangat pedas), lada barra’ (cabe yang besarnya hampir sama dengan biji beras namun sangat pedas), jahe, sereh, bawang putih, bawang merah, daun bawang, daun sop/seledri, camangi, lengkuas, merica.
Kacang-kacangan yaitu kacang tanah
Ramuan-ramuan berupa temu lawak, kencur
Semua bahan diatas dapat tumbuh di wilayah Bokin Pitung Penanian, sehingga tidak harus membeli dari luar. Daun bawang, daun sop/seledri, lada katokkon, lada barrra’ tidak memerlukan lahan luas. Pengalaman saya lihat dilakukan masyarakat Toraja di Ambon hanya membuat para-para dari potongan-potongan bambu lalu diisi tanah dicampur pupuk kandang. Jadi pengelolaannya tidak sulit namun menghasilkan uang. Di Dusun Sendana sudah ada salah satu contoh yaitu bapak Yohanis La’karan boleh dikata sudah berhasil menekuni menanam sayur-sayuran namun kurang dikenal karena kurang promosi.
Mengkampanyekan pengembangan ekonomi melalui gerakan budi daya ikan air tawar
Hampir semua kebutuhan ikan air tawar di Toraja didatangkan dari luar padahal kita bisa pelihara sendiri. Jadi kita kampanyekan dan mendorong masyarakat memelihara ikan mas (dalam Bahasa Toraja disebut bale karappe), ikan lele, (dalam Bahasa Toraja disebut bale tanduk), belut sawah (dalam Bahasa Toraja disebut lendong).
Mengkampanyekan pengembangan ekonomi melalui gerakan menanam pisang
Pohon pisang selain sebagai tanaman lindung, salah satu kearifan lokal jaman dulu jika ada kegiatan mengumpulkan orang banyak makan menggunakan daun pisang dan itu lebih alami, lebih nikmat, lebih sehat, dan tidak mengeluarkan uang. Makan menggunakan daun pisang juga tidak repot mencuci piring, Kearifan lokal ini sudah nyaris hilang karena sekarang menggunakan kertas padahal kertas itu belum tentu sehat karena pembuatan kertas melalui proses kimiawi dan mengeluarkan uang untuk beli. Kearifan lokal lainnya dalam penggunaan daun pisang adalah nasi dimasukkan dalam wadah bakul (dalam bahasa Toraja disebut baka) dengan dilapisi daun pisang sehingga aromanya sangat wangi. Kearifan lokal ini sudah nyaris hilang karena jaman sekarang hampir semua makanan menggunakan wadah dari plastik dan ini efeknya bisa kurang baik karena tidak semua plastik bisa tahan panas. Jadi kita kembangkan kembali kearifan lokal ini jika ada kegiatan mengumpulkan orang banyak baik rambu solo’ dan rambu tuka’ atau kegiatan lainnya wajib menggunakan daun pisang sebagai alat makan. Jadi ada yang memproduksi daun pisang dan ada yang membeli daun pisang. Tidak ada yang terbuang dari pohon pisang mulai dari batang, daun dan buah. Batang pisang menjadi sayur (dalam Bahasa Toraja disebut Burak) dan sayur burak sangat pavorit di kalangan masyarakat Toraja. Ayam kampung dimasak di bambu menggunakan Burak dengan bumbu-bumbuan yaitu cabe, sereh, bawang merah, bawang putih, jahe, lengkuas, daun bawang. Jantung pisang juga menjadi sayur. Buah pisang dibuat dalam berbagai bentuk makanan jadi sehingga menghasilkan uang seperti pisang goreng (dalam Bahasa Toraja disebut sanggara’), di Makassar sangat terkenal pisang epek, pisang ijo, pallu butung, roko’-roko’ unti, keripik pisang, kola’, di tanah Luwu ada yang dikenal dengan dampo’ pisang. Ini semua menghasilkan uang.
Mengkampanyekan pengembangan ekonomi melalui gerakan memelihara ayam kampung
Sebagaimana diuraikan diatas bahwa sayur burak adalah temannya ayam kampung oleh karena itu kita kampanyekan gerakan memelihara ayam kampung. Selain daging ayam kampung sehat untuk dikonsumsi juga telur ayam kampung sangat bermanfaat untuk kesehatan. Telur ayam kampung dicampur madu sangat bermanfaat untuk penambah daya tahan tubuh. Kotoran ayam kampung juga sangat bermanfaat sebagai pupuk kandang untuk tanaman seperti daun bawang, daun sop/seledri, camangi, cabe dll. Memelihara ayam kampung tidak sulit karena bisa dilepas bebas.













