Daerah  

Menggali Nilai-nilai Ekonomi dan Kearifan Lokal: Johanis Lempang

Mengkampanyekan pengembangan ekonomi melalui gerakan menanam bambu dan betung
Bambu dan betung adalah tanaman multi fungsi. Dari sisi lingkungan hidup bambu dan betung adalah tanaman lindung. Jaman dulu dalam konteks masyarakat Bokin Pitung Penanian ada situasi angin kencang disertai hujan deras, orang tua-tua menyebutnya masiak deata. Waktu itu banyak rumah-rumah sederhana tiangnya terbuat dari Betung (dalam Bahasa lokal disebut pattung). Saat terjadi masiak deata rumah-rumah tersebut tidak goyang karena dikelilingi bambu dan betung yang sangat rindang. Sekarang banyak bangunan digoyang angin karena tidak ada lagi pelindungnya, tidak ada lagi pohon bambu dan pohon betung disekitarnya. Jadi kita kampanyekan menanam bambu dan betung disekitar pemukiman sebagai tanaman lindung. Tanaman bambu dan betung juga menyimpan air dalam tanah, sekaligus sebagai penahan agar tidak mudah terjadi longsor. Berikut fungsi-fungsi dari bambu dan betung sebagai tanaman multi fungsi dan mempunyai nilai ekonomi.
Alat Minum
Sama halnya dengan daun pisang, salah satu fungsi dari bambu yang merupakan kearifan lokal yang nyaris hilang adalah digunakan sebagai alat minum (dalam Bahasa lokal disebut tinggo’). Tinggo’ digunakan sebai alat minum pada kegiatan-kegiatan mengumpulkan orang banyak seperti rambu solo’ dan rambu tuka’ atau kegiatan lainnya. Fungsi ini lebih alami, lebih nikmat, lebih sehat, dan tidak mengeluarkan uang.
Alat Masak
Fungsi lain adalah digunakan sebagai alat masak. Salah satu makanan favorit masyarakat Toraja adalah makanan yang dimasak menggunakan bambu (dalam Bahasa Toraja disebut pa’piong). Semua jenis daging bisa dipiong menggunakan bambu, termasuk ikan-ikanan dan beras ketan juga dimasak dalam bambu lebih enak (dalam bahasa Toraja disebut piong bo’bo’). Ini juga menghasilkan uang. Jaman dulu di Pasar Saruran dan Pasar Rantepao banyak piong bo’bo’ di jual tapi sekarang sepertinya sudah jarang.

Baca juga  Ini Kata Wabup Majene Arismunandar Soal Komoditas Ekspor Tanaman Porang

Barang Kerajinan
Bambu mempunyai nilai ekonomi, dibuat dalam berbagai bentuk produk jadi yaitu anyam-anyaman seperti baka, bingka’, sarongan, sarong pago dan ini bisa dijual dan menghasilkan uang. Sekarang di Bokin sdh tidak ada orang manganan (pengrajin) semua serba dibeli artinya mengeluarkan uang. Di Pulau Jawa bambu banyak dibuat menjadi bale-bale dan kursi untuk dijual. Fungsi bale-bale adalah tempat duduk-duduk/tidur-tiduran kalau lagi santai di rumah.
Peralatan Kerja
Parang dan pisau yang digunakan sebagai peralatan kerja semua menggunakan gagang (dalam Bahasa Toraja disebut ulu la’bo’) yang terbuat dari akar bambu. Tanpa gagang, parang tidak dapat berfungi dan bahan yang paling bagus dan paling kuat sebagai gagang parang adalah akar bambu. Jaman dulu di pasar banyak dijual akar bambu bersama parang yang tujuannya untuk gagag parang namun sekarang sudah jarang.
Barang Konsumasi
Tidak ada yang terbuang dari pohon bambu, mulai dari akar, batang sampai daun. Sayur bola termasuk sayur pavorit di kalangan masyarakat Toraja. Sayur bola terbuat dari tunas bambu dan betung yang masih mudah. Sayur bola juga menjadi bahan ekspor ke manca negara. Daun bambu dipake bungkus beras ketan lalu dikukus (dalam Bahasa Toraja disebut kasube). Kasube difungsikan sebagai makanan pembuka pada berbagai acara rambu tuka’


Potongan-potongan kecil dari bambu dan pattung yang seharusnya sudah menjadi limbah dapat difungsikan sebagai barang berharga yaitu sumpit. Sumpit sekarang lagi ngetren karena restoran dan rumah-rumah makan tidak pake lagi sendok melainkan pake sumput dan ini menjadi sumber uang bahkan sumpit juga diekspor ke manca negara.

Baca juga  Dalam Sehari, Jasa Raharja Parepare Lakukan MoU dengan 2 Rumah Sakit


Strategi yang dapat dilakukan untuk pengembangan ekonomi diatas adalah bisa dilakukan secara perorangan bisa juga dalam bentuk kelompok tani. Jika sudah terbentuk kelompok tani bisa bersinergi dengan Dinas Pertanian supaya Dinas Pertanian menunjuk pendamping dan penyuluh dalam mendampingi masyarakat untuk mengembangkan usahanya.

Baca juga  Wabup Kutai Kartanegara Bawa Uang ke Majene Rp 100 Juta, Untuk Apa?

SUMBER PEMBIAYAAN
Jika usahanya sudah berjalan bisa mencari informasi bagaimana persyaratan dan prosedur mendapatkan KUR (kredit usaha rakyat) dari Bank BRI

MARKET
Jika usahanya sudah berjalan marketnya ada 2 cara yaitu :
Bisa dipasarkan sendiri yaitu datang langsung ke kota karena para kuliner atau warung-warung makan di kota memerlukan ikan karappe, ikan lele, lendong, sayur bulunangko, bambu. Bumbu-bumbu pa’piong diperlukan mereka seperti sereh, jahe, lengkuas, cabe, daun sop, camangi, daun bawang, bawang merah, bawang putih dan sebagainya. Saya dengar di Bolu ada warung Bokin.
Bisa bentuk koperasi. Sekarang Undang-undang Koperasi menyatakan 9 orang sudah bisa bentuk koperasi. Koperasi nilah nantinya akan menampung hasil-hasil kebun masyarakat lalu dipasarkan. Kalau menjadi anggota Koperasi pengrajin akan menerima SHU (Sisa Hasil Usaha)


Johanis menyimpulkan bahwa intinya adalah kemauan, tekad, kerajinan, ketekunan, keuletan, dan jangan bilang susah, sulit, malas. Kata Pak Jokowi kalau tidak dimulai dari sekarang, tidak akan dimulai-mulai, dan kalau tidak dimulai-mulai sampai kiamat tidak akan dimulai-mulai.

Jurnalis: Medy