Iptek  

Di Teppo Majene, 10 Anak Disunat dengan Menggunakan Lem, Kok Bisa Ya?

MAJENE, Generasi Muda Pamboborang (GEMPA) menggelar aksi sosial sunatan massal kepada 10 warga kurang mampu di lingkungan Teppo Kelurahan Baru Kabupaten Majene, Jumat (27/5/2022).

Awaluddin, salah seorang pengurus GEMPA mengatakan, kegiatan sunnatan massal ini dilaksanakan bekerja sama dengan Himpunan Praktisi Khitan Seluruh Indonesia ( HIPRAKSI) Sulbar.

“Peserta kurang lebih 10 orang, dari lingk. Teppo. Semoga kedepan makin banyak peserta yang ikut bakti sosial karena ini sangat membantu masyarakat khususnya masyarakat kurang mampu,” ujarnya.

Baca juga  Prof JJ Terpilih Kembali Nahkodai Unhas, Amanah Besar Menuju Kampus Kelas Dunia

Awaluddin yang juga perawat di RSUD Majene menambahkan, sunatan massal yang dilakukan itu menggunakan sunnat metode lem. “Yang lebih penting lagi tehniknya dengan tehnik modern yaitu tehnik lem,” ungkapnya.

Dikutip dari sunat123.com, sesuai dengan namanya, sunat ini menggunakan lem, yakni cairan perekat khusus yang berfungsi untuk menutup luka setelah sunat.

Baca juga  Keutamaan Qurban Hari Raya Idul Adha

Meskipun metode sunat ini tergolong baru, tetapi penggunaan lem dalam dunia medis sudah digunakan sejak lama. Teknik ini sangat efektif untuk menyatukan bagian tubuh yang terluka, tanpa perlu dijahit.

Keunggulan Sunat Lem, Metode Terbaru

Tidak Memerlukan Jahitan

Sebagian besar anak-anak merasa takut apabila mendengar kata sunat. Bahkan, tak sedikit anak yang mengalami trauma, ngeri karena takut dipotong dan dijahit. Maklum saja, kesan dijahit menjadi kata yang menyeramkan bagi sebagian anak atau orang yang belum dikhitan atau disunat. Dengan menggunakan lem, proses penjahitan bisa dihilangkan jadi rasa takut pada anak atau orang yang akan dikhitan menjadi bisa diminimalisir.

Baca juga  Mengenal si "Pembunuh" Boleran, Air Tenang Menghanyutkan di Pesisir Pantai