Makassar – Duka mendalam masih menyelimuti keluarga almarhum Muhammad Farhan Gunawan, co-pilot pesawat ATR 42-500 yang menjadi korban kecelakaan di wilayah pegunungan perbatasan Kabupaten Maros–Pangkep.
Salah seorang paman almarhum, Azis Said, menuturkan Farhan dikenal sebagai sosok anak yang patuh kepada orang tua, santun, dan sangat menjaga hubungan kekeluargaan.
“Dia anak yang baik, patuh sekali sama orang tua, dan sangat baik kepada keluarga,” ujar Azis Said saat ditemui di sela acara takziah di rumah duka, Perumahan Graha Kencana Blok B5, Jalan Urip Sumoharjo Lorong II, Kecamatan Panakkukang, Makassar, Minggu (25/1/2026).




Menurut Azis, semasa hidupnya Farhan dikenal rendah hati, tidak sombong, serta selalu menjaga adab kepada orang yang lebih tua. Sikapnya yang ramah dan murah senyum membuat almarhum mudah diterima di lingkungan keluarga maupun pergaulan.
Meski dalam dua tahun terakhir jarang berkumpul karena padatnya jadwal penerbangan, Farhan telah berencana merayakan hari raya Idul Fitri tahun ini bersama orang tuanya dan keluarga besarnya di Luwu Timur, namum takdir berkata lain.
“Di hari raya, tahun ini Farhan sudah berencana datang ke kampung tempat tinggal orang tuanya dan merayakan bersama orang tuanya dan keluarga, namun takdir berkata lain,” ujarnya.
Azis menyampaikan bahwa Farhan merupakan anak yang sangat menjaga perasaan ibunya.
“Tidak pernah membalas, hanya diam saja jika ibunya memarahinya,” bebernya.
Azis juga menyebut almarhum ponakannya merupakan anak dari adik isterinya.
“Isteri saya, bersaudara kandung dengan ayahnya Farhan, ayahnya adik isteri saya” bebernya.
Farhan diketahui bekerja sebagai pilot di salah satu maskapai penerbangan swasta, Indonesia Air Transport (IAT). Almarhum wafat di usia muda, 25 tahun, saat kariernya tengah menanjak.
Kabar duka tersebut pertama kali diketahui pihak keluarga melalui media sosial yang menginformasikan pesawat ATR 42-500 dilaporkan hilang kontak.
“Saat pertama dengar kabar itu, kami semua langsung mengecek informasi, karena beredar kabar di manifes pertama tidak terdapat nama Farhan ikut dalam penerbangan, tetapi di manifes kedua, nama Farhan ada. Kami terus berdoa,” ucap Azis lirih.
Namun, di tengah ikhtiar dan harapan keluarga, Farhan tidak ikut dalam penerbangan tersebut pupus, setelah orang tua Farhan mengonfirmasi bahwa Farhan ikut dalam penerbangan pesawat naas tersebut.
Kronologi Kecelakaan Pesawat ATR 42-500
Pesawat ATR 42-500 yang diawaki total 10 orang tersebut diketahui terbang dengan rute Yogyakarta–Makassar. Namun sebelum mendarat di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, pesawat dilaporkan hilang kontak oleh Air Traffic Control (ATC) pada Sabtu (17/1/2026) pukul 13.17 WITA, di wilayah pegunungan perbatasan Kabupaten Maros dan Pangkep.
Tim SAR gabungan kemudian memastikan pesawat mengalami kecelakaan di kawasan Pegunungan Bulusaraung. Korban berhasil ditemukan pada Kamis (22/1/2026) pagi, berada di jurang sedalam sekitar 250 meter dari puncak gunung.
Berdasarkan hasil identifikasi tim Disaster Victim Identification (DVI), kantong jenazah nomor PM 62.B.07 dengan AM 001 teridentifikasi sebagai Muhammad Farhan Gunawan, co-pilot pesawat ATR 42-500, beralamat di Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan.
Kepergian Farhan meninggalkan duka mendalam, tak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi dunia penerbangan Indonesia.













