Umat Hindu Peringati Hari Suci Tumpek Uye, Tanam 15 Ribu Pohon

Umat Hindu peringati hari suci dengan menanam pohon. (Foto: Ist.)

Bogor – Umat Hindu memperingati Hari Suci Tumpek Uye dengan menggelar rangkaian kegiatan pelepasan satwa, penanaman ribuan pohon, serta pengelolaan sampah rumah ibadah. Kegiatan ini dipusatkan di Pura Parahyangan Agung Jagatkartta, Gunung Salak, Kabupaten Bogor, Jumat (6/2/2026).

Tumpek Uye merupakan hari suci umat Hindu untuk mengupacarai berbagai jenis hewan, khususnya ternak besar seperti sapi, kerbau, dan gajah, serta hewan peliharaan lainnya.

Upacara ini dipersembahkan kepada Sang Hyang Rare Angon, manifestasi Dewa Siwa sebagai penguasa dan pelindung satwa.

Peringatan Tumpek Uye tahun 2026 mengusung tema “Green Dharma Bhakti Pertiwi untuk Nusantara Jaya” dan dipimpin oleh Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama RI, I Nengah Duija.

Baca juga  Mewakili Menkumham, Bupati AST Serahkan Puluhan Remisi kepada Napi di HUT RI ke-79

Dalam sambutannya, I Nengah Duija menegaskan bahwa Green Dharma merupakan kewajiban umat Hindu untuk menjaga kelestarian bumi.

Momentum Tumpek Uye, kata dia, dimaknai sebagai upaya pemulihan terhadap satwa dan tumbuh-tumbuhan.

“Green Dharma adalah kewajiban kita sebagai umat Hindu untuk menjaga bumi tetap hijau. Ini sejalan dengan arahan Presiden melalui program ASRI, yakni aman, sehat, resik atau bersih, dan indah,” ujarnya.

Ia menjelaskan, rangkaian Green Dharma dilaksanakan dalam dua segmen utama, yakni pelepasan satwa dan penanaman pohon.

Pelepasan burung dilakukan secara serentak di seluruh Indonesia dengan pusat kegiatan di Pura Parahyangan Agung Jagatkartta.

Sementara itu, penanaman pohon ditargetkan mencapai 15 ribu pohon yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia sebagai bagian dari upaya pemulihan lingkungan hidup berbasis nilai keagamaan.

Baca juga  Malunda dan Ulumanda Berpotensi Dilanda Angin Kencang Malam Ini

Selain itu, peringatan Tumpek Uye juga diisi dengan penyerahan alat pengelolaan dan penghancur sampah untuk membantu mengatasi persoalan sampah di rumah ibadah, khususnya saat pelaksanaan upacara keagamaan.

“Sampah kerap menjadi persoalan dalam setiap kegiatan keagamaan. Alat ini masih dalam tahap uji coba dan ke depan akan diterapkan di pura-pura lain, termasuk di DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat,” tambahnya.

Sementara itu, Sekretaris Ditjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI, Ida Made Pidada, menyampaikan bahwa Green Dharma merupakan program prioritas Kementerian Agama yang digagas melalui pendekatan ekoteologi.

“Green Dharma adalah turunan dari program ekoteologi yang menjadi bagian dari Asta Protas Kementerian Agama. Tumpek Uye dimaknai sebagai pemulihan satwa, sedangkan Tumpek Bubuh sebagai pemulihan tumbuh-tumbuhan. Ini adalah implementasi nyata ajaran agama, bukan sekadar simbolik,” jelasnya.

Baca juga  Ini yang Menyebabkan Jantung Berhenti Saat Sedang Main Bulutangkis

Ia menambahkan, kegiatan serupa dilaksanakan secara serentak di seluruh Indonesia oleh pembimas, lembaga keagamaan, guru, dan penyuluh agama Hindu, serta akan menjadi agenda rutin setiap enam bulan sekali.

“Implementasi ajaran agama tidak berhenti pada ritual, tetapi diwujudkan melalui aksi nyata menjaga lingkungan demi keberlanjutan alam untuk generasi mendatang,” pungkasnya.

Kegiatan tersebut dihadiri jajaran Ditjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI, pimpinan Parisada Hindu Dharma Indonesia tingkat pusat dan daerah, tokoh umat, serta umat Hindu dari berbagai wilayah. (*)