Siarah ke makam korban 40.000 jiwa di kampung Galung Lombok, Kecamatan Tinambung, Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Kamis, (2/2/2023), di Taman Makam Pahlawan Galung lombok merenungkan sejarah kelam kebiadaban perang.
“Kegiatan Siarah yang dilakukan Dinas Sosial atas himbauan Kepala Dinas Sosial Kabupaten Majene, A. Beda,” jelas Aco Mursalim.
Kepala Bidang Perlindungan jaminan Sosial dinas Sosial Kabupaten Majene, Aco Mursalim bersama rombongan Sekertaris Daerah Kabupeten Majene mengaku haru mengenang sejarah pembantaian terhadap korban 40.000 jiwa rakyat oleh tentara Nederland Indische Civil Administration (NICA) di bawah komando Raymond Paul Pire Westerling di Galung Lombok Tinambung, Polewali Mandar, Sulawesi Barat, pada 1 Februari 1947, bagaimana satu persatu rakyat dibantai, tak terkecuali anak-anak dan perempuan.
“Kala itu, tentara Belanda dibantu pribumi menggiring warga yang berkelompok antara 40 hingga 50 orang. Warga yang digiring adalah mereka yang dianggap membangkang,” kutip Aco.
“Saat itu katanya, segerombol orang saat itu dibawa ke sebuah lapangan di Galung Lombok, lalu di hujani peluru. Ketika dibrondong warga terantai dengan tangan terikat tali,” kata Aco menirukan.













